BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2007, Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia sebesar
34/1000 kelahiran hidup. Bila angka ini dikonversikan secara matematis, maka
setidaknya terjadi 400 kematian bayi perhari atau 17 kematian bayi setiap 1 jam
di seluruh Indonesia, sedangkan Angka Kematian Balita (AKBAL) sebesar 44/1000
kelahiran hidup yang berarti terjadi 529 kematian/hari atau 22 kematian balita
setiap jamnya. Bila kita mencoba menghitung lebih jauh lagi, berarti terjadi
lebih dari 15.000 kematian balita setiap bulannya.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun
2007, ada beberapa penyakit utama yang menjadi penyebab kematian bayi dan
balita. Pada kelompok bayi (0-11 bulan), dua penyakit terbanyak sebagai
penyebab kematian bayi adalah penyakit diare sebesar 31,4% dan pneumonia 24%,
sedangkan untuk balita, kematian akibat diare sebesar 25,2%, pneumonia 15,5%,
Demam Berdarah Dengue (DBD) 6,8% dan campak 5,8%.
Berdasarkan data diatas WHO dan UNICEF terdorong
ubtuk mengembangkan suatu strategi yang disebu Manajemen Terpadu Balita Sakit
(MTBS). MTBS merupakan pendekatan keterpaduan dalam tatalaksana balita sakit di
fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Dalam pelayanan dengan pendekatan MTBS
selain upaya kuratif juga dilakukan sekaligus upaya promotif dan
preventif. MTBS diracang terutama untuk meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan yang diberikan oleh para medis dengan mengintegrasikan kegiatan
manajerial seperti pelatihan, supervisi, komunikasi, monitoring dan evaluasi.
B. Tujuan
1.
Untuk memahami Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)
dan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM).
2.
Untuk mengetahui definisi MTBS dan MTBM.
3.
Untuk mengetahui proses manajemen kasus
balita sakit
4.
untuk mengetahui tatalaksana bayi sakit
BAB II
PEMBAHASAN
A.
MTBS
(Manajemen Terpadu Bayi Sakit)
MTBS singkatan dari Manajemen Terpadu Balita Sakit
atau Integrated Management of Childhood Illness (IMCI dalam bahasa
Inggris) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana
balita sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-5 tahun (balita)
secara menyeluruh. MTBS bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu
pendekatan/cara menatalaksana balita sakit. Kegiatan MTBS merupakan upaya
yang ditujukan untuk menurunkan kesakitan dan kematian sekaligus meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan anak balita di unit rawat jalan kesehatan dasar
seperti Puskesmas, Pustu, Polindes, Poskesdes, dll.
Bila dilaksanakan dengan baik, upaya ini tergolong
lengkap untuk mengantisipasi penyakit-penyakit yang sering menyebabkan kematian
bayi dan balita. Dikatakan lengkap karena meliputi upaya kuratif
(pengobatan), preventif (pencegahan), perbaikan gizi, imunisasi dan
konseling (promotif). Badan Kesehatan Dunia WHO telah mengakui bahwa pendekatan
MTBS sangat cocok diterapkan negara-negara berkembang dalam
upaya menurunkan kematian, kesakitan dan kecacatan pada bayi dan
balita.
1.
Definisi
MTBS
Suatu manejemen untuk balita yang datang di pelayanan
kesehatan,dilaksanakan secara terpadu mengenai klasifikasi,status gizi,status
imun maupun penangan dan konseling yang diberikan. MTBS merupakan suatu program
pemerintah untuk menurunkan angka kematian balita dan menurunkan angka
kesakitan.
Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS) merupakan pendekatan keterpaduan dalam tatalaksana
balita sakit yang datang berobat ke fasilitas rawat jalan pelayanan kesehatan
dasar yang meliputi upaya kuratif terhadap penyakit pneumonia, diare, campak,
malaria, infeksi telinga, malnutrisi, dan upaya promotif dan preventif yang
meliputi imunisasi, pemberian vitamin A dan konseling pemberian makan yang
bertujuan untuk menurunkan angka kematian bayi dan anak balita serta menekan
morbiditas karena penyakit tersebut (Pedoman Penerapan Manajemen Terpadu Balita
Sakit di Puskesmas, Modul-7. 2004). Balita (bawah lima tahun) yaitu anak umur
0-5 tahun (tidak termasuk umur 5 tahun) (MTBS, Modul 1, 2004).
2.
Tujuan MTBS
Menurunkan
secara signifikan angka kesakitan dan kematian global yang terkait dengan
penyebab utama penyakit pada balita, melalui peningkatan kualitas pelayanan
kesehatan di unit rawat jalan fasilitas kesehatan dasar dan memberikan
konttribusi terhadap pertumbuhan perkembangan kesehatan anak.
Penerapan
MTBS dengan baik dapat meningkatkan upaya penemuan kasus secara dini,
memperbaiki manajemen penanganan dan pengobatan, promosi serta peningkatan
pengetahuan bagi ibu – ibu dalam merawat anaknya dirumah serta upaya
mengoptimalkan system rujukan dari masyarakat ke fasilitas pelayanan primer dan
rumah sakit sebagai rujukan. ( Modul MTBS 1, 2008 )
3.
Proses
Manajemen Kasus Balita Sakit
Proses manajemen kasus disajikan dlam suatu bagan yang memperlihatkan
urutan langkah – langkah dan penjelasan cara pelaksanaannya. Langkah –
langkahnya yaitu :
a. Menilai dan
membuat klasifikasi anak sakit umur 2 bulan – 5 tahun.
Menilai anak
maksudnya adalah melakukan penilaian dengan cara anamnesis dan pemeriksaan fisik.
b. Menentukan
tindakan dan memberi pengobatan.
Membuat
klasifikasi diartikan membuat sebuah keputusan mengenai kemungkinan penyakit
atau masalah serta tingkat keparahannya.Memilih suatu kategori atau klasifikasi
untuk setiap gejala utama yang berhubungan dengan berat ringannya penyakit.
Klasifikasi merupakan suatu kategori untuk menentukan tindakan, bukan sebagai
diagnose spesifik penyakit. Menentukan tindakan dan memberi pengobatan di
fasilitas kesehatan sesuai dengan klasifikasi, memberi obat untuk diminum di
rumah dan juga mengajari ibu tentang cara memberikan obat serta tindakan lain
yang harus dilakukan di rumah.
c. Memberi
konseling bagi ibu.
Memberi
konseling bagi ibu juga termasuk menilai cara pemberian makan anak, member
anjuran pemberian makan yang baik untuk anak serta kapan harus membawa anaknya
kembali ke fasilitas kesehatan.
d. Manajemen
terpadu bayi muda umur kurang dari 2 bulan, memberi pelayanan tindak lanjut.
Manajemen
terpadu bayi muda meliputi menilai dan membuat klasifikasi, menentukan tindakan
dan memberi pengobatan, konseling, dan tindak lanjut pada bayi umur kurang dari
2 bulan baik sehat maupun sakit. Pada prinsipnya, proses manajemen kasus pada
bayi muda umur kurang dari 2 bulan tidak berbeda dengan anak sakit umur 2 bulan
tidak berbeda dengan anak sakit umur 2 bulan sampai 5 tahun. Memberi pelayanan
tindak lanjut berarti menentukan tindakan dan pengobatan pada saat anak
datang untuk kunjungan ulang.
Kegiatan
MTBS memiliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu :
a.
Meningkatkan keterampilan petugas kesehatan dalam
tatalaksana kasus balita
sakit (selain
dokter, petugas kesehatan non dokter, dapat pula memeriksa danmenangani pasien
apabila sudah dilatih ).
b.
Memperbaiki system kesehatan (perwujudan
terintegrasinya banyak program kesehatan dalam 1 kali pemeriksaan MTBS)
c.
Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat alam
perawatan di rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit
(meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan).
4.
Manajemen
Terhadap Balita Sakit Umur 2 Bulan – 5 tahun
Pada pelaksanaan manajemen terpadu balita sakit pada umur 2 bulan sampai
dengan 5 tahun tahap pelaksanaan sama seperti pada bayi umur kurang dari 2
bulan yaitu dengan tahap penilaian dan gejala, tahap kalisifikasi dan tingkat
kegawatan, tahap tindakan dan pengobatan, tahap pemberian konseling dan tahap
pelayanan tindak lanjut, adapun secara jelas dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.
Penilaian Tanda & Gejala
Pada penilaian tanda & gejala pada bayi umur 2
bulan sampai dengan 5 tahun ini yang dinilai adalah tindakannya tanda bahaya
umum (tidak bisa minum atau muntah,kejang, letargis atau tidak sadar dan
keluhan seperti batuk atau kesukaran bernafas, adanya diare, lemah, masalah
telinga, mall nutrisi, anemia dan lain-lain.
a.
Penilaian pertama keluhan batuk atau sukar bernafas,
tanda bahaya umum, tarikan dinding wajah ke dalam, stridor, nafas cepat.
Penentuan frekuensi pernapasan adalah pada anak usia 2 bulan sampai 12 bulan
normal pernapasan 50 atau lebih permenit sedangkan frekuensi pernapasan anak
usia 12 bulan sampai 5 tahun adalah 40 kali permenit.
b.
Penilaian kedua keluhan dan tanda adanya diare seperti
letargis atau tidak sadar, atau cenderung tidak bisa minum atau malas makan
maka turgor kulit jelek, gelisah, rewel, haus atau banyak minum adanya darah
dalam tinja (berak campur darah).
c.
Penilain
ketiga tanda demam, disertai dengan adanya tanda bahaya umu, kaku kuduk, dan
adanya infeksi lokal seperti kekeruhan pada kornea mata,luka pada mulut,mata
bernanah adanya tanda presyok seperti nadi lemah,ektremitas dingin,muntah
darah,berak hitam,perdarahan hidung,perdarahan bawah kulit,nyeri ulu hati dan
lain-lain.
d.
Penilaian keempat tanda masalah telinga seperti nyeri
pada telinga,adanya pembengkakan,adanya cairan keluar dari telinga yang kurang
dari 14 hari,dan lain-lain
e.
Penilaian kelima tanda status gizi seperti badan
kelihatan bertambah kurus,bengkak pada kedua kaki,telapak tangan pucat,status
gizi dibawa garis merah pada pemeriksaan berat badan menurut umur.
2.
Penentuan klasifikasi dan tingkat kegawatan
Pada penentuan klasifikasi dan tingkat kegawatan ini
dilakukan setelah penilaian tanda dan gejala yang diklasifikasikan berdasarkan
dari kelompok keluhan atau tingkat kegawatan,adapun klasifikasinya dapat
sebagai berikut.
a.
Klasifikasi pneumonia
Pada
klasifikasi pneumonia ini dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
1)
Diklasifikasi pneumonia berat apabilah adanya tanda
bahaya umum,tarikan dinding dada kedalam,adanya stridor
2)
Adanya pneumonia apabila ditemukan tanda frekuensi
napas yang sangat cepat
3)
Klasifikasi batuk bukan pneumonia apabilah tidak ada
pneumonia ada hanya keluhan batuk
b.
Klasifikasi dehidrasi
Pada
klasifikasi ini termasuk klasifikasi diare dengan dihindari yang terbagi
menjadi 3 kelompok yaitu:
1)
Dehidrasi berat apabila ada tanda dan gejala seperti
letargis atau tidak sadar,mata cekung,turgor kulit jelek sekali,
2)
Klasifikasi dehidrasi ringan sedang dengan tanda
seperti gelisah,rewet,mata cekung,haus,turgor jelek
3)
Klasifikasi diare tanpa dehidrasi apabila tidak cukup
tanda adanya dehidrasi
c.
Klasifikasi diare persisten
Untuk klasifikasi diare ini ditemukan apabila diarenya
sudah lebih dari 14 hari dengan dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu diare
persisten berat ditemukan adanya tanda dehidrasi dan diare persisten apabila
tidak ditemukan adanya tanda dehidrasi.
d.
Klasifikasi disentri
Pada klasifikasi disentri ini juga termasuk
klasifikasi diare secara umum akan tetapi apabilah diarenya disertai dengan
darah dalam tinja atau diarenya bercampur dengan darah
e.
Klasifikasi resiko malaria
Pada klasifikasi resiko malaria ini dikelompokkan
menjadi resiko tinggi rendah atau tampak resiko malaria dengan mengidentifikasi
apabila darahnya merupakan resiko terhadap malaria ataukah pernah kedaerah yang
beresiko,maka apabila terdapat hasil klasifikasi maka dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
1)
Klasifikasi dengan resiko tinggi terhadap malaria yang
dikelompokkan lagi menjadi dua bagian yaitu klasifikasi penyakit berat dengan
demam apabila ditemukan tanda bahaya umum disertai dengan kaku kuduk dan
klasifikasi malaria apabila hanya demam ditemukan suhu 37,5 derajat celcius
atau lebih.
2)
Klasifikasi rendah terhadap malaria yang dikelompokkan
lagi menjadi 3 yaitu penyakit berat dengan demam apabila ada tanda bahaya umum
atau kaku kuduk dan kalsifikasi malaria apabila tidak ditemukan tanda demam
atau campak dan klasifikasi demam mungkin bukan malaria apabila hanya ditemukan
flek atau adanya campak atau juga adanya penyebab lain dari demam. Klasifikasi
tanpa resiko malaria diklasifikasikan menjadi 2 yaitu penyakit berat dengan
demam apabila ditemukan tanda bahaya umum dan kaku kuduk serta klasifikasi
demam bukan malaria apabila tidak ditemukan tanda bahaya umum dan tidak ada
kaku kuduk.
f.
Klasifikasi Campak
Pada
klasifikasi campak ini dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
1) Campak dengan komplikasi berat
apabila ditemukan adanya tanda bahaya umum terjadi kekeruhan pada kornea mata,
adanya luka pad daerah mulut yang dalam & luas serta adanya tanda umum
campak seperti adanya ruang kemerahan dikulit yang menyeluruh, adanya batuk,
pilek, atau mata merah.
2) Campak dengan komplikasi pada mata
atau mulut apabila ditemukan tanda mata bernanah serta luka dimulut dan ketiga
klasifikasi campak apabila hanya khas campak yang tidak disertai tanda
klasifikasi diatas.
g.
Klasifikasi Demam Berdarah Dengue
Pada klasifikasi ini apabila terdapat demam yang
kurang dri 7 hari, yaitu :
1)
DBD apabila ditemukan tanda seperti adanya tanda
bintik perdarahan dikulit (ptkie) adanya tanda syok seperti extermitas peraba
dingin, nadi lemah, atau tidak teraba, muntah bercampur darah, perdarahan
hidung atau gusi, adanya tourniquet positif.
2)
Kalsifikasi mungkin DBD apabila adanya tanda nyeri ulu
hati atau gelisah, bintik perdarahan bawah kulit dan uji tourniquet negatif
jika ada sedikit ptkie
3)
Klasifikasi terakhir adalah klasifikasi demam mungkin
bukan DBD apabila tidak ada tanda seperti diatas hanya ada demam.
h.
Klasifikasi Masalah Telinga
Pada klasifikasi masalah telinga ini dikelompokkan
menjadi 4 bagian, yaitu :
1)
Klasifikasi mastoiditis apabila ditemukan adanya
pembengkakan & nyeri di belakang telinga,
2)
Klasifikasi infeksi telinga akut apabila adanya cairan
atau nanah yang keluar dari telinga dan telah terjadi kurang dari 14 hari serta
adanya nyeri telinga
3)
Klasifikasi infeksi telinga kronis apabila ditemukan
adanya cairan atau nanah yang keluar dari telinga dan terjadi 14 hari lebih
4)
Klasifikasi tidak ada infeksi telinga apabila tidak
ditemukan gejala seperti di atas
i.
Klasifikasi Status Gizi
Klasifikasi status gizi pada penentuan klasifikasi ini
dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
1)
Klasifikasi gizi buruk dan atau anemia berat apabila
adanya bengkak pada kedua kaki serta pada telapak tangan ditemukan adanya
kepucatan.
2)
Klasifikasi bawah garis merah dan atau anemia apabila
ditemukan tanda sebagai berikut: apabila lapak tangan agak pucat, berat badan
menurut umur di bawah garis merah
3)
Klasifikasi tidak bawah garis merah dan tidak anemia
apabila tidak ada tanda seperti di atas.
3.
Penentuan Tindakan & Pengobatan
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah
menentukan tindakan dan pengobatan setelah diklasifikasikan berdasarkan
kelompok gejala yang ada.
a.
Pneumonia
Tindakan
yang dpat dilakukan pada maslah pneumonia dalam manajemen terpadu balita sakit
sebagai berikut.
Apabila
didapatkan pneumonia berat atau penyakit sangat berat maka tindakan yang
pertama adalah :
1)
Berikan dosis petama antibiotika
Pilihan pertama kontrimoksazol (Trimetoprim + sulfametoksazol)
dan pilihan kedua adalah amoksilin
2)
Lakukan rujukan segera
b.
Dehidrasi
Pada klasifikasi dehidrasi tindakan dapat
dikelompokkan berdasarkan derjat dari dehidrasi, apabila klasfikasinya
dehidrasi berat maka tindakannya adalah sbb:
1)
Berikan cairan intravena secepatnya, apabila anak
dapat minum berikan oralit melalui mulut sambil infus dipersiapkan, berikan 100
ml/kg ringer laktat atau NaCl
2)
Lakukan
monitoring setiap 1-2 jam tentang status dehidrasi, apabila belum
membaik berikan tetesan intravena
3)
Berikan oralit (kurang dari 5 ml/kg/jam) segera
setelah anak mau minum
4)
Lakukan
monitoring kembali sesudah 6 jam pada bayi atau pada anak sesudah 3 jam dan
tentukan kembali status dehidrasi kemudian ditentukan status dehidrasi dan
lakukan sesuai dengan derjat dehidrasi
5)
Anjurkan untuk tetap memberikan ASI
c.
Klasifikasi diare pesisten
Pada klasifikasi ini tindakan ditentukan oleh derajat dehidrasi, kemudian
apabila ditemukan adanya klorea maka pengobatan yang adapat dianjurkan adalah :
pilihan pertama antibiotika kotrimokzasol dan pilihan kedua adalah tetrasiklin.
d.
Klasifikasi Resiko Malaria
Penanganan tindakan dan pengobatan pada klasifikasi
resiko malaria dapat ditentukan dari tingkat klasifikasi, adapun tindakannya
adalah sbb :
1)
Pemberian kinin (untuk malaria dengan penyakit berat)
secara intra muskular
2)
Pemberian obat anti malaria oral (untuk malaria saja)
dengan pilihan pertama adalah klorokuin + primakuin dan pilihan kedua adalah
sulfadoksin primetamin + primakuin (untuk anak ≥ 12 bulan) dan tablet kina
(untuk anak ≤ 12 bulan)
3)
Setelah pemberian maka lakukan pengamatan selama 30
menit sesudah pemberian klorokuin dan apabila dalam waktu tersebut terdapat
muntah maka ulangi pemberian klorokuin
e.
Klasifikasi Campak
Pada klasifikasi campak dapat dilakukan tindakan sebagai berikut :
Apabila
campak dijumpai dengan komplikasi berat maka tindakannya adalah pemberian
vitamin A, antibiotik yang sesuai, saleo mata tetrasiklin atau kloramefnikol
apabila dijumpai kekeruhan pada kornea, pemberian paracetamol apabila disertai
demam tinggi (38,5 derajat celcius), kemudian apabila campak disertai
komplikasi mata dan mulut ditambahkan dengan gentian violet dan apabila hanya
campak saja tidak ditemukan penyakit atau komplikasi lain maka tindakannya
hanya diberikan vitamin A.
f.
Klasifikasi Demam Berdarah Dengue
Pada klasifikasi demam berdarah dengue tindakan yang dapat dilakukan antara
lain apabila ditemukan maka segera berikan cairan intra vena, pertahankan kadar
gula darah, apabila dijumpai demam tinggi maka berikan paracetamol dan berikan
cairan atau oralit apabila dilakukan rujukan selama perjalanan.
Ketentuan
pemberian cairan pra rujukan pada demam berdarah
1)
Benrikan cairan ringer laktak apabila memungkinkan
beri glukosa 5% kedalam ringer laktak melalui intra vena apabila tidak
diberikan cairan oralit atau cairan peroaral selama perjalan.
2)
Apabila
tidak ada berikan cairan NaCL 10-20 ml/kgbb dalam 30 menit
3)
Monitor selama setelah 30 menit dan apabila nadi
teraba berikan cairan intra vena dengan tetesan 10 ml/kgbb dalam 1 jam dan
apabila nadi tidak teraba berikan cairan 15-20 ml/kgbb dalam /1 ja
g.
Klasifikasi masalah telinga
Tindakan dan pengobatan pada klasifikasi masalah telingah dapat dilakukan
antara lain berikan dosis pertam untuk antkbiotika yang sesuai pemberian
parasetamol apabila kronis ditambah dengan mengeringkan telingh dengan kain
penyerap.
h.
Klasifikasi status gizi
Pada kalsifikasi statu gizi dapat dilakukan tindakan pemberian vitamin A
apabilaa anak kelihatan sangat kurus dan bengkak pada kedua kaki dan apabila
dijumpai aadanya anemia maka dapat dilakukan pemberian zat besi dan pabila
daerah resiko tinggi malaria dapat diberikan anti malaria oral piratel pamoat
hanya diberikan anak berumur 4 bulan atau lebih dan belum pernah diberikan
dalam 6 bulan terakhir serta hasil pemeriksaan tinja positif
4.
Pemberian Konseling
Pada pemberian konseling yang
dilakukan manajemen terpadu balita sakit umur 2 bulan sampai dengan 5 tahun
pada umumnya adalah konseling tentang:
a.
Konseling pemberian makan pada anak
1)
Lakukan evaluasi tentang cara memberikan makanan pada
anak menyatakan cara meneteki anak, berapa kali sehari apakah pada malam hari
menetek, kemudian anak mendapat makan atau minum lain, apabila anak berat badan
berdasarkan umur sangat rendah menyatakan berapa banyak makan atau minum yang
diberikan pada anak apakah anak dapat makan sendiri dan bagaimana caranya
apakah selama sakait makan ditambah dan lain-lain.
2)
Menganjurkan cara pemberian makan pada ibu
b.
Konseling pemberian cairan selama sakit
Pada konseling ini kasusnya setiap anak sakit
dilakukan dengan cara menganjurkan ibu agar memberi ASI lebih sering dan lebih
lama setiap meneteki serta meningkatkan kebututhan cairan seperti memberikan
kua sayur, air tajin atau air matang.
c.
Konseling
kunjungan ulang
Pada pemberian konseling tentang kunjungan ulang yang
harus dilakukan pada ibu atau keluarga apabila ditemukan tanda-tanda klasifikasi
berikut dalam waktu yang ditentukan ibu harus segera ke petugas kesehatan.
5.
Pemberian Pelayanan dan Tindak Lanjut
a.
Pnemonia
Pemberian tindak lanjut pada masalah dilakukan sesudah
2 hari dengan melakukan pemeriksaan tentang tanda adanya gejala pnemonia
apabila didapatkan tanda bahaya umum atau tarikan dinding dada ke dalam maka
berikan 1 dosis antibiotika pilihan kedua atau suntikan kloramfenikol dan
segara lakukan rujukan, namun apabila frekuensi nafas atau nafsu makan tidak
menunjukkan perbaikan gantilah antibiotika pilihan ketiga kemudianapabila nafas
melambat atau nafsu makan membaik lanjutkan pemberian antibiotika sampai 5
hari.
b.
Diare persistem
Pada tindak lanjut masalah ini dilakukan sesudah 5
hari dengan cara mengevaluasi diare apabila diare belum berhenti maka pelayanan
tindak lanjut adalah memberikan obat yang diperlukan dan apabila sudah berhenti
maka makan sesuai umur.
c.
Disentri
Pelayanan tindak lanjut untuk disentri dilakukan
sesudah 2 hari dengan mengevaluasi jumlah darah dalam tinja berkurang tentang
tanda disentri apabila anak masi mengalami disentri maka lakukan tindakan
sesuai tindaka dehidrasi berdasarkan derajatnya.
d.
Resiko malaria
Pelayan tindak lanjut pada resiko malaria dilkukan
sesudah 2 hari apabila demam lagi dalam 14 hari dengan melakukan penilaian
sebagai berikut: apabila ditemukan malaria oral pilihan kedua bahaya umum atau
kakuk kuduk maka lakukan tindakan sesuai protap.
e.
Campak
Pelayanan tindak lanjut pada klasifikasi campak ini
dilakukan sesudah 2 hari dengan mengevaluasi atau memperhatikan tentang gejala
yang pernah dimilikinya apabila mata masi bernanah maka lakukan evaluasi kepada
keluarga atau ibu dengan menjelaskan cara mengobati infeksi mata jika sudah
benar lakukan rujukan dan apabila kurang benar maka ajari dengan benar.
f.
Demam berdarah
Pada klasifikasi pelayanan tindak lanjut dilakukan
sesudah 2 hari dengan melakukan evaluasi tanda dan gejala yang ada,apabila
ditemuakan tanda bahaya umum dan adanya kaku kuduk maka lakukan tindakan sesui
dengan pedoman tindakan pada penyakit demam berdarah dengan penyakit berat,akan
tetapi apabila ditemukan penyebab lain dari demam berdarah maka berikan
pengobatan yang sesuai dan apabila masih ada tanda demam berdarah maka lakukan
tindakan sebagaimana tindakan demam berdarah dan dalam waktu 7 hari masi
ditemukan demam lakukan pemeriksaan lebih lanjut.
g.
Masalah telinga
Pada pelanyanan tindak lanjut masalah telinga ini dilakukan sesudah 5 hari
dengan mengetahui nana evaluasi tanda dan gejala yang ada,apabilah pada
waktukunjungan didapatkan pembengkakan dan nyeri dibelakang telinga dan demam
tinggi maka segera lakukan rujukan,dan apabilah masih terdapat nyeri dan
keluarkan cairan atau nana maka lakukan pengobatan antibotika selama 5 hari
dengan mengerinkan bagian telinga,apabila sudah benar anjurkan tetap
mempertahankan apabila masih kurang ajari tentang cara mengeringkannya,kemudian
apabila keadaan telinga sudah tidak timbul nyeri atau tidak keluar cairan maka
lanjutkan pengobatan antibiotika sampai habis.
B. MTBM (Manajemen Terpadu Bayi Muda)
Dalam perkembangannya mencakup Manajemen
Terpadu Bayi Muda umur kurang dari 2 bulan baik dalam keadaan sehat maupun
sakit. Umur 2 tahun tidak termasuk pada Bayi Muda tapi ke dalam kelompok 2 bulan sampai 5
tahun. Bayi Muda
mudah sekali menjadi sakit, cepat menjadi berat dan serius bahkan meninggal
terutama pada satu minggu pertama kehidupan bayi. Penyakit yang terjadi pada 1
minggu pertama kehidupan bayi hampir selalu terkait dengan masa kehamilan dan
persalinan. Keadaan tersebut merupakan karakteristik khusus yang harus
dipertimbangkan pada saat membuat klasifikasi penyakit. Pada bayi yang lebih
tua pola penyakitnya sudah merupakan campuran dengan pola penyakit pada
anak.Sebagian besar ibu mempunyai kebiasaan untuk tidak membawa Bayi Muda ke fasilitas kesehatan. Guna
mengantisipasi kondisi tersebut program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) memberikan
pelayanan kesehatan pada bayi baru lahir melalui kunjungan rumah oleh petugas
kesehatan.
Melalui kegiatan ini bayi baru lahir
dapat dipantau kesehatannya dan didekteksi dini. Jika ditemukan masalah petugas
kesehatan dapat menasehati dan mengajari ibu untuk melakukan Asuhan Dasar Bayi Muda di rumah, bila perlu merujuk
bayi segera.
Proses penanganan Bayi Muda tidak jauh berbeda dengan
menangani balita sakit umur 2 bulan sampai 5 tahun.
1.
Pelaksanaan
MTBM pada bayi umur kurang dari 2 bulan
Proses
manajemen kasus disajikan dalam bagan yang memperlihatkan urutan
langkah-langkah dan penjelasan cara pelaksanaannya:
a.
Penilaian dan klasifikasi
b.
Tindakan dan Pengobatan
c.
Konseling bagi ibu
d.
Pelayanan Tindak lanjut
Dalam pendekatan MTBS tersedia “Formulir
Pencatan” untuk Bayi Muda dan untuk kelompok umur 2 bulan sampai 5 tahun. Kedua
formulir pencatatan ini mempunyai cara pengisian yang sama yaitu :
a.
Penilaian berarti melakukan penilaian
dengan cara anamnesis dan pemeriksaan fisik
b.
Klasifikasi membuat keputusan mengenai
kemungkinan penyakit atau masalah serta tingkat keparahannya dan merupakan
suatu kategori untuk menentukan tindakan bukan sebagai diagnosis spesifik
penyakit
c.
Tindakan dan pengobatan berarti
menentukan tindakan dan memberi pengobatan difasilitas kesehatan sesuai dengan
setiap klasifikasi.
d.
Konseling juga merupakan menasehati ibu
yang mencakup bertanya, mendengar jawaban ibu, memuji, memberi nasehat relevan,
membantu memecahkan masalah dan mengecek pemahaman
e.
Pelayanan tindak lanjut berarti
menentukan tindakan dan pengobatan pada saat anak datang untuk kunjungan ulang.
Menanyakan
kepada ibu mengenai masalah bayi
muda.
Tentukan pemeriksaan ini merupakan kunjungan atau kontak pertama dengan bayi muda atau kunjungan ulang untuk
masalah yang sama. Jika merupakan kunjungan ulang akan diberikan pelayanan
tindak lanjut yang akan dipelajari pada materi tindak lanjut.
Kunjungan
Pertama lakukan pemeriksaan berikut :
a.
Periksa bayi muda untuk kemungkinan penyakit
sangat berat atau infeksi bakteri.selanjutnya dibuatkan klasifikasi berdasarkan
tanda dan gejalanya yang ditemukan.
b.
Menanyakan pada ibu apakah bayinya
diare, jika diare periksa tanda dan gejalanya yang terkait. klasifikasikan bayi muda untuk dehidrasi nya dan
klasifikasikan juga untuk diare persisten dan kemungkinan disentri.
c.
Periksa semua bayi muda untuk ikterus dan klasifikasikan
berdasarkan gejala yang ada.
d.
Periksa bayi untuk kemungkinan berat
badan rendah dan atau masalah pemberian asi. selanjutnya klasifikasikan bayi muda berdasarkan tanda dan gejala
yang ditemukan.
e.
Menanyakan kepada ibu apakah bayinya
sudah di imunisasi?. tentukan status imunisasi bayi muda.
f.
Menanyakan status pemberian vit k1.
g.
Menanyakan kepada ibu masalah lain
seperti kelainan
kongenital, trauma lahir, perdarahan tali pusat dan sebagainya.
h. Menanyakan
kepada ibu keluhan atau masalah yang terkait dengan kesehatan bayinya. Jika Bayi Muda membutuhkan RUJUKAN SEGERA
lanjutkan pemeriksaan secara cepat. Tidak perlu melakukan penilaian pemberian
ASI karena akan memperlambat rujukan.
2.
Penilaian
Dan Klasifikasi Bayi Muda Umur Kurang 2 Bulan
a. Kemungkinan
Penyakit Sangat Berat Atau Infeksi Bakteri
Infeksi pada Bayi Muda dapat terjadi secara sistemik
atau lokal. Infeksi sistemik gejalanya tidak terlalu khas, umumnya
menggambarkan gangguan fungsi organ seperti : gangguan kesadaran sampai kejang,
gangguan napas, bayi malas minum, tidak bisa minum atau muntah, diare, demam
atau hipotermi
Pada infeksi lokal biasanya bagian yang
terinfeksi teraba panas, bengkak, merah. Infeksi lokal yang sering terjadi pada
Bayi
Muda
adalah infeksi pada tali pusat, kulit, mata dan telinga.
Memeriksa gejala kejang dapat dilakukan
dengan cara (TANYA, LIHAT, RABA).
1)
Kejang
Kejang merupakan gejala kelainan susunan
saraf pusat dan merupakan kegawat daruratan. Kejang pada Bayi Muda umur ≤ 2 hari berhubungan
dengan asfiksia, trauma lahir, dan kelainan bawaan dan jika lebih dari 2 hari
dikaitkan dengan tetanus neonatorium.
a)
Tanya : adakah riwayat kejang? Tanyakan
ke ibu dan gunakan bahasa atau istilah
lokal yang mudah dimengerti ibu
b)
Lihat : apakah bayi tremor dengan atau
tanpa kesadaran menurun?
Tremor atau gemetar adalah gerakan halus yang konstan, tremor disertai kesadran
menurun menunjukkan kejang. Kesadaran menurun dapat dinilai dengan melihat
respon bayi pada saat baju bayi dibuka akan terbangun.
c)
Lihat : apakah ada gerakan yang tidak
terkendali? Dapat berupa gerakan berulang pada mulut, gerakan bola mata cepat,
gerakan tangan dan kaki berulang pada satu sisi.
d)
Lihat : apakah mulut bayi mencucu?
e)
Lihat dan raba : apakah bayi kaku
seluruh tubuh dengan atau tanpa rangsangan. Mulut mencucu seperti mulut ikan
merupakan tanda yang cukup khas pada tetanus neonatorum
f)
Dengar : apakah bayi menangis melengking
tiba-tiba?
Biasanya menunjukkan ada proses tekanan intra
kranial atau kerusakan susunan saraf pusat lainnya
2)
Bayi tidak bisa minum dan memuntahkannya
Bayi menunjukkan tanda tidak bisa minum
atau menyusu jika bayi terlalu lemah untuk minum atau tidak bisa mengisap dan
menelan.
Bayi
mempunyai tanda memuntahkan semua jika bayi sama sekali tidak dapat menelan
apapun.
3)
Gangguan Napas
Pola napas Bayi Muda tidak teratur (normal 30-59
kali/menit) jika <30 kali/menit atau ≥ 60 kali/menit menunjukkan ada
gangguan napas, biasanya disertai dengan tanda atau gejala bayi biru(sianosis),
tarikan dinding dada yang sangat kuat
(dalam
sangat kuat mudah terlihat dan menetap), pernapasan cuping hidung serta
terdengar suara merintih (napas pendek menandakan kesulitan bernapas)
4)
Hipotermia
Suhu noramal 36,5 -37,5 C jika suhu <
35,5C disebut hipotermi berat yang mengidentikasikan infeksi berat sehingga
harus segera dirujuk, suhu 35,5-36,0 C disebut hipotermi sedang dan suhu ≥ 37,5 disebut demam
Mengukur suhu menggunakan termometer
pada aksiler selama 5 menit tidak dianjurkan secara rektal karena dapat
mengakibatkan perlukaan rektal.
5)
Infeksi Bakteri Lokal
Infeksi bakteri lokal yang sering
terjadi adalah infeksi pada kulit, mata dan pusar. Pada kulit apakah ada tanda
gejala bercak merah, benjolan berisi nanah dikulit. Pada mata terlihat
bernanah, berat ringannya dilihat dari produksi nanah dan mata bengkak. Pusar
kemerahan atau bernanah (kemerahan meluas ke kulit daerah perut berbau ,
bernanah) berarti bayi mengalami infeksi berat.
Cara Mengklasifikasi Kemungkinan
Panyakit Sangat Berat Atau Infeksi Bakteri
|
Tanda atau Gejala
|
Klasifikasi
|
|
·
Tidak mau minum atau memuntahkan semua ATAU
·
Riwayat kejang ATAU
·
Bergerak hanya jika distimulasi ATAU
·
Napas cepat ATAU
·
Napas lambat ATAU
·
Tarikan dinding dada ke dalam yang kuat ATAU
·
Merintih ATAU
·
Demam (≥ 37,5C) ATAU
·
Hipotermi ( <35,5C) ATAU
·
Nanah yang banyak di mata ATAU
·
Pusar kemerahan meluas sampai dinding perut
|
PENYAKIT SANGAT BERAT ATAU
INFEKSI BAKTERI BERAT
|
|
·
Pustul kulit ATAU
·
Mata bernanah ATAU
·
Pusat kemerahan atau bernanah
|
INFEKSI BAKTERI LOKAL
|
|
·
Tidak terdapat salah satu tanda diatas
|
MUNGKIN BUKAN INFEKSI
|
b. Menilai
Diare
Ibu mudah mengenal diare karena
perubahan bentuk tinja yang tidak seperti biasanya dan frekuensi beraknya lebih
sering dibandingkan biasanya. Biasanya bayi dehidrasi rewel dan gelisah dan
jika berlanjut bayi menjadi letargis atau tidak sadar, karena bayi kehilangan cairan
matanya menjadi cekung dan jika dicubit kulit akan kembali dengan lambat atau
sangat lambat. Cubit kulit perut dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk lihat
apakah kulit itu kembali lagi dengan sangat lambat (lebih dari 2 detik), lambat
atau segera.
Klasifikasi Diare
|
Tanda dan Gejala
|
Klasifikasi
|
|
Terdapat 2 atau
lebih tanda berikut :
·
Letargis atau tidak sadar
·
Mata Cekung
·
Cubitan kulit perut kembalinya sangat lambat
|
DIARE DEHIDRASI
BERAT
|
|
Terdapat 2
atau lebih tanda berikut :
·
Gelisah atau rewel
·
Mata Cekung
·
Cubitan kulit perut kembali lambat
|
DIARE
DEHIDRASI RINGAN /SEDANG
|
|
Tidak cukup tanda
dehidrasi berat atau ringan/sedang
|
DIARE TANPA
DEHIDRASI
|
c. Ikterus
Ikterus merupakan perubahan warna kulit
atau selaput mata menjadi kekuningan sebagian besar(80%) akibat penumpukan
bilirubin (hasil pemecahan sel darah merah) sebagian lagi karena ketidak
cocokan gol.darah ibu dan bayi. Peningkatan kadar bilirubin dapat diakibatkan oleh
pembentukan yang berlebihan atau ada gangguan pengeluaran.
Ikterus dapat berupa fisiologik dan
patologik (hiperbilirubin mengakibatkan gangguan saraf pusat)
Sangat penting mengetahui kapan ikterus
timbul, kapan menghilang dan bagian tubuh mana yang kuning. Timbul setelah 24
jam dan menghilang sebelum 14 hari tidak memerlukan tindakan khusus hanya
pemberian ASI. Ikterus muncul setelah 14 hari berhubungan dengan infeksi hati
atau sumbatan aliran bilirubin pada empedu. Lihat tinja pucat seperti dempul
menandakan adanya sumbatan aliran bilirubin pada sistem empedu.
Untuk
menilai derajat kekuningan digunakan metode KRAMER
·
Kramer I : kuning pada daerah kepala dan
leher
·
Kramer 2 : kuning sampai dengan badan
bagian atas (dari pusar ke atas)
·
Kramer 3 : kuning sampai badan bagian
bawah hingga lutut atau siku
·
Kramer 4 : kuning sampai pergelangan tangan
dan kaki
·
Kramer 5: kuning sampai daerah tangan
dan kaki
Klasifikasi Ikterus
|
Tanda dan Gejala
|
Klasifikasi
|
|
1) Timbul kuning pada
hari pertama (< 24 jam) ATAU
2) Kuning ditemukan
pada umur lebih dari 14 hari ATAU
3) Kuning sampai
telapak tangan /telapak kaki ATAU
4) Tinja berwarna
pucat
|
IKTERUS BERAT
|
|
5)
Timbul kuning pada umur ≥ 24
jam sampai ≤ 14 hari dan tidak sampai telapak tangan/kaki
|
IKTERUS
|
|
6)
Tidak kuning
|
TIDAK ADA IKTERUS
|
d. Kemungkinan
Berat Badan
Rendah dan atau masalah Pemberian ASI
Pemberian ASI merupakan hal yang penting
bagi pertumbuhan dan perkembangan pada bayi 6 bulan pertama kehidupannya, jika
ada masalah pemberian ASI maka bayi dapat kekurangan gizi dan mudah terkena
penyakit.
Tanyakan
: apakah IMD dilakukan, apakah ada kesulitan menyusui, apakah bayi diberi ASI
dan berapa kali dalam 24 jam, apakah bayi diberi selain ASI.
Lihat
: apakah ada bercak putih dimulut, adakah celah bibir /dilangit-langit
Timbang
dan menentukan BB menurut umur dipakai standar WHO 2005 yang berbeda untuk
laki-laki dan perempuan. Bayi muda dengan berat badan rendah yang memiliki BB
menurut umur < -3 SD (dibawah garis merah), antara -2 SD dan -3 SD (BB pada
pita kuning), >-2 SD (tidak ada masalah BB rendah)
Penilaian Cara pemberian ASI (jika ada kesulitan pemberian ASI/ diberi ASI
kurang dari 8 jam dalam 24 jam, diberi selain ASI, BB rendah menurut umur)
1. Apakah bayi diberi ASI dalam 1 jam
terakhir jika tidak sarankan ibu untuk menyusui, jika iya menunggu bayi mau
menyusu lagi, amati pemberian ASI.
2. Lihat bayi menyusu dengan baik
(posisi bayi benar, melekat dengan baik, mengisap
dengan efektif)
Klasifikasi Kemungkinan Berat Badan
Rendah Dan /Masalah Pemberian Asi
|
Tanda dan Gejala
|
Klasifikasi
|
|
7) Ada kesulitan
pemberian ASI
8) Berat badan menurut
umur rendah
9) ASI kurang dari 8 kali
perhari
10) Mendapat
makanan/minuman lain selain ASI
11) Posisi bayi salah
12) Tidak melekat
dengan baik
13) Tidak mengisap
dengan efektif
14) Terdapat luka
bercak putih
15) Terdapat celah
bibir /langit-langit
|
BERAT BADAN RENDAH MENURUT
UMUR DAN MASALAH PEMBERIAN ASI
|
|
Tidak terdapat tanda/gejala
diatas
|
BERAT BADAN TINDAK RENDAH MENURUT UMUR DAN TIDAK ADA
MASALAH PEMBERIAN ASI
|
e. Memeriksa
Status /Penyuntikan Vitamin K1
Karena sistem pembekuan darah pada bayi
baru lahir belum sempurna maka semua bayi yang berisiko untuk mengalami
perdarahan (HDN=
haemorrhagic Disease of the Newborn).
Perdarahn bisa ringan atau berat berupa perdarahan pada kejadian ikutan pasca
imunisasi ataupun perdarahan intrakranial dan untuk mencegah diatas maka semua bayi diberikan suntikan vit K1
setelah proses IMD dan sebelum pemberian imunisasi Hb O
f. Memeriksa
Status Imunisasi
Penularan
Hepatitis pada bayi dapat terjadi secara vertikal (ibu ke bayi pada saat
persalinan) dan horizontal (penularan orang lain). Dan untuk mencegah terjadi
infeksi vertikal bayi harus diimunisasi HB
sedini mungkin.
Imunisasi
HB 0 diberikan (0-7 hari) di paha kanan
selain itu bayi juga harus mendapatkan imunisasi BCG di lengan kiri dan polio diberikan 2 tetes oral yang
dijadwalnya disesuaikan dengan tempat lahir
g. Memeriksa
masalah/keluhan Lain
1)
Memeriksa kelainan bawaan/kongenital
Adalah
kelainan pada bayi baru lahir bukan akibat trauma lahir dan untuk mengenali
jenis kelainan
lakukan pemeriksaan
fisik (anensefalus, hidrosefalus, meningomielokel dll)
2) Memeriksa
kemungkinan Trauma lahir
Merupakan
perlukaan pada bayi baru lahir yang terjadi pada proses persalinan (kaput
suksedanium, sefal hematome dll)
3) Memeriksa
Perdarahan Tali pusat
Perdarahan
terjadi karena ikatan tali pusat longgar setelah beberapa hari dan bila tidak
ditangani dapat syok
h. Memeriksa
masalah ibu
Pentingnya menanyakan masalah ibu adalah
memanfaatkan kesempatan waktu kontak dengan Bayi Muda untuk memberikan pelayanan
kesehatan kepada ibu. Masalah yang mungkin berpengaruh kepada kesehatan bayi
1)
Bagaimana keadaan ibu dan apakah ada
keluhan (misalkan : demam, sakit kepala, pusing, depresi)
2)
Apakah ada masalah tentang (pola
makan-minum, waktu istirahat, kebiasaan BAK dan BAB)
3)
Apakah lokea berbau, warna dan nyeri
perineum
4)
Apakah ASI lancar
5)
Apakah ada kesulitan merawat bayi
6)
Apakah ibu minum tablet besi, vit A dan
menggunakan alat kontrasepsi
3.
Tindakan
dan Pengobatan
Bayi
muda yang termasuk klasifikasi merah memerlukan rujukan segera ke fasilitas
pelayanan yang lebih baik dan sebelum merujuk lakukan pengobatan pra rujukan
dan minta Informed Consent. Klasifikasi kuning dan hijau tidak memerlukan
rujukan.
a.
Memerlukan Rujukan.
Klasifikasi berat (warna merah muda) memerlukan rujukan
segera,
tetap lakukan pemeriksaan dan lakukan penanganan segera sehingga rujukan tidak
terlambat, contoh :
1) Penyakit
sangat berat atau infeksi bakteri berat
2) Ikterus
berat
3) Diare
dehidrasi berat
Tindakan/Pengobatan Pra Rujukan
1) Kejang
a)
Bebaskan jalan nafas dan memberi oksigen
b)
Menangani kejang dengan obat anti kejang
(pilihan 1 fenobarbital 30 mg = 0,6 ml IM, pilihan 2 diazepam 0.25 ml dengan
berat <2500 gr dan 0,5 ml dengan berat ≥ 2500 gr per rektal)
c)
Jangan memberi minum pada saat kejang
akan terjadi aspirasi
d) Menghangatkan
tubuh bayi (metode kangguru selama perjalanan ke tempat rujukan
e)
Jika curiga Tetanus Neonatorum beri obat
Diazepam bukan Fenobarbital
f)
Beri dosis pertama antibiotika PP
2) Gangguan
Nafas pada penyakit sangat
berat atau infeksi bakteri berat
a)
Posisikan kepala bayi setengah mengadah
jika perlu bahu diganjal dengan gulungan kain
b)
Bersihkan jalan nafas dan beri oksigen 2
l per menit
c)
Jika apnoe lakukan resusitasi
3) Hipotermi
a)
Menghangatkan tubuh bayi
b)
Cegah penurunan gula darah (berikan ASI
bila bayi masih bisa menyusu dan beri ASI perah atau air gula menggunakan pipet
bila bayi tidak bisa menyusu) dapat menyebabkan kerusakan otak
c)
Nasehati ibu cara menjaga bayi tetap
hangat selama perjalanan rujukan
d) Rujuk
segerta
4) Ikterus
a)
Cegah turunnya gula darah
b)
Nasehati ibu cara menjaga bayi tetap
hangat
c)
Rujuk segera
5) Gangguan
saluran cerna
a)
Jangan berikan makanan /minuman apapun
peroral
b)
Cegah turunnya gula darah dengan infus
c)
Jaga kehangatan bayi
d) Rujuk
segerta
6) Diare
a)
Rehidrasi (RL atau NaCl 100 ml/kg BB
30
ml/kg BB selama 1 jam
70
ml/ kg BB selama 5 jam
Jika
memungkinkan beri oralit 5 ml/kg BB/jam
b)
Rehidrasi melalui pipa nasogastrik 20
ml/kg BB/jam selama 6 jam (120 ml/kg BB)
c)
Sesudah 6 jam periksa kembali derajat
dehidrasi
7) Berat
tubuh rendah dan atau gangguan pemberian ASI
a)
Cegah penurunan gula darah dengan
pemberian infus
b)
Jaga kehangatan bayi
c)
Rujuk segera
b. Tidak
Memerlukan Rujukan
Klasifikasi yang berwarna kuning dan hijau, misalnya infeksi
bakteri lokal, Mungkin bukan infeksi, Diare dehidrasi ringan/sedang, diare
tanpa dehidrasi, ikterus, berat badan rendah menurut umur dan atau masalah
pemberian ASI, Berat badan tidak rendah dan tidak ada masalah pemberian ASI
Dibawah ini beberapa tindakan
/pengobatan pada Bayi
Muda
yang tidak memerlukan rujukan :
1)
Menghangatkan tubuh bayi segera
2)
Mencegah gula darah tidak turun
3)
Memberi antibiotik per oral yang sesuai
4)
Mengobati infeksi bakteri lokal
5)
Melakukan rehidrasi oral baik diklinik maupun dirumah
6)
Mengobati luka atau bercak putih di
mulut
7)
Melakukan asuhan dasar Bayi Muda (mencegah infeksi, menjaga bayi
tetap hangat, memberi ASI sesering mungkin, imunisasi
4.
Konseling
Bagi Ibu
Konseling diberikan pada Bayi Muda
dengan klasifikasi
kuning dan hijau
a.
Mengajari ibu cara pemberian obat oral di rumah
(macam obat, dosis, cara pemberian )
b.
Mengajari ibu cara mengobati infeksi bakteri
lokal (tetes mata /salep tetraciklin/kloramfenikol, mengeringkan telinga dengan
bahan penyerap, luka dimulut dengan gentian violet)
c.
Mengajari pemberian oralit
d.
Menasehati ibu tentang pemberian ASI :
pemberian ASI eksklusif, cara meningkatkan produksi ASI, posisi yang benar saat
meneteki, cara menyimpan ASI
e.
Mengajari ibu cara merawat tali pusat dan menjelaskan
jadwal pemberian imunisasi
f.
Menasehati ibu kapan harus segera membawa bayi
ke petugas kesehatan dan kapan kunjungan ulang
g.
Menasehati ibu tentang kesehatan dirinya
5.
Kunjungan
Ulang Untuk Pelayanan Tindak Lanjut
Pada
kunjungan ulang petugas dapat menilai apakah anak membaik setelah diberi obat
atau tindakan lainnya. Apabila anak mempunyai masalah lain gunakan penilaian
awal lengkap pada kunjungan awal.
Kunjungan
ulang :
a. Dua
hari
1)
Infeksi bakteri lokal
2)
Gangguan pemberian ASI
3)
Luka atau bercak putih di mulut
4)
Hipotermi sedang
5)
Diare dengan dehidrasi ringan /sedang
6) Ikterus
fisiologik jika tetap kuning
b. 14 hari
Berat Badan Rendah menurut umur
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) adalah suatu pendekatan
pelayanan terhadap balita sakit yang dikembangkan oleh WHO.Dengan MTBS dapat
ditangani secara lengkap kondisi kesehatan balita pada tingkat pelayanan
kesehatan dasar, yang memfokuskan secara integrative aspek kuratif, preventif
dan promotif termasuk pemberian nasihat kepada ibu sebagai bagian dari
pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan anak.Pemberian antibiotika
sangat selektif sesuai klasifikasi dan dapat dan dapat membatasi beberapa
klasifikasi yang akhirnya dapat menekan biaya pengobatan.Melihat keunggulan
tersebut maka dapatlah dimengerti mengapa Indonesia termasuk salah satu
pengguna dini dari pendekatan MTBS ini, bahkan Indonesia sekarang sudah sampai
tahap pemantapan implementasi.
B.
Saran
Dengan mempelajari makalah mengenai manajemen terpadu balita sakit (MTBS),
diharapkan mahasiswa khususnya perawat dapat mengurangi angka kematin anak mengetahui hal-hal apa saja yang perlu
diperhatikan jika seorang dan memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan
kebutuhan anak.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Aprilia Asri R, S. Kep, Ners. Diktat Kuliah Keperawatan Anak 1. 2011
2.
Dr. Soedjatmiko, SpA (K), Msi, 2009, Materi presentase pada “Pelatihan Program Kesehatan Balita Bagi
Penanggung Jawab Program Kesehatan Anak”. Bogor. 2009. Stimulasi , Deteksi dan
Intervensi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita.
3.
Soetjiningsih, (1998), Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta.
Gambling With a Casino Card - Dr.MCD
BalasHapusWhen I came across a casino card that stated "It is true that gambling is a solitary affair, 안동 출장안마 and every one 순천 출장마사지 knows that at 서산 출장샵 the end 광양 출장안마 of it, the gambler who 여수 출장안마 has